MANBAUL 'ULUM

PONDOK PESANTREN

Foto Saya
Nama:
Lokasi: bulu - sugihwaras, bjonegoro, Indonesia

Senin, 10 Januari 2011

SASTRA ARAB

Abbasiah
Dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan kontroversial di negeri Arab, muncul beberapa tulisan orisinal paling awal tentang sastra Arab. Penulis karya sastra Arab adalah orang yang berasal dari berbagai etnis, serta merta diterapkan disiplin ilmu seperti filologi, linguistik, leksikografi, dan tata bahasa sekalipun telah melahirkan beberapa sarjana keturunan non-Arab. Al-Jawhari, yang kamusnya disusun secara alfabetis dari huruf terakhir tiap kata.
Sastra Arab dalam pengertian yang sempit, yakni adab, mulai dikembangkan oleh Al-Jahiz. Salah satu ciri khas penulisan prosa pada masa itu adalah kecenderungan respon atas pengaruh Persia, untuk menggunakan ungkapan-unkapan hiperbolik dan bersayap. Masa ini juga menyaksikan munculnya bentuk baru sastra, yaitu maqamah.
Badi al-Zaman al-Hamadzani dikenal sebagai pencipta maqamah, sejenis anekdot dramatis yang substansinya berusaha dikesampingkan oleh penulis untuk mengedepankan kemampuan puitis, pemahaman dan kefasihan bahasanya. Sebagai contoh, kisah-kisah bebahasa Spanyol dan Italia yang bernuansa realis atau kepahlawanan memperlihatkan kedekatan yang jelas dengan mahqamah Arab.
Tidak lama sebelum pertengahan abad ke-10, draf pertama dari sebuah karya yang kemudian dikenal dengan Alf Laylah wa Laylah (Seribu Satu Malam) disusun di Irak. Ini adalah karya Persia klasik, berisi beberapa kisah dari India. Karakteristiknya yang beragam telah mengilhami lahirnya ungkapan konyol para kritikus sastra modern yang memandang kisah “Seribu Satu Malam” sebagai kisah-kisah Persia yang dituturkan dengan cara Buddha oleh ratu Esther kepada Haroun Alraschid di Kairo selama abad ke-14 Masehi. Kisah ini menjadi begitu populer di kalangan masyarakat Barat, karena telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di belahan bumi Eropa serta pencetakan berulang-ulang. Selain prosa-prosa tersebut, juga terdapat beberapa puisi klasik, contohnya Abu Nawas yang mampu menyusun lagu terbaik tentang cinta dan arak.
Dengan kata lain dan mengambil secarik garis merah pada masa Dinasti Abbasiyah, dan penulisan sastra pada masa-masa lainnya, pada dasarnya bersifat subjektif dan teritorial, sarat dengan warna lokal, namun tidak mampu menembus batasan tempat dan waktu sehingga tidak memperoleh tempat di tengah-tengah generasi penyair dari setiap zaman dan tempat. (/ind)
Sastra Arab
Bahasa Arab masuk ke Andalusia
bersamaan dengan masuknya Islam ke daratan itu.Syalibi yang mengutip keterangan
Nicholson menyatakan bahwa pada permulaan abad IX M bahasa arab sudah menjadi
bahasa resmi di Andalusia.
Sejalan
dengan perkembanga bahaAsa arab, berkembang pula kesusastraan Arab yang dalam
arti sempit, disebut adab, baik dalam bentuk puisi maupun prosa. Diantar jenis
prosa adalah khithabnah, tarrasul, maupun karta fiksi lainnya.Menurut Amer
Ali”Orang –arang Arab Andalusia adalah penyair-penyair alam.Mereka menemukan
bermacam jenis puisi, yang kemudian dicontoh oleh orang-orang Kristen di Eropa
selatan.
Diantara
sastrawan terkemuka  Andalusia
adalah:
  1. Abu Amr Ahmad ibn Muhammmad ibn Abd Rabbih
Ia menekuni ilmu kedokteran dan musik, tetapi
kecenderungan lebih banyak kepada sastra dan sejarah.Ia semasa dengan empat
orang khalifah Umayyah yang bagi mereka telah ia gubah syair-syair , sehingga
ia memperoleh kedudukan terhormat di istana.
  1. Abu Amir Abdullah ibn Syuhaid
Baik prosa maupun puisi, hanya beberapa
potong saja yang ditemukan
  1. Ibn Hazm orang penyair sufi yang banyak mengubah
    puisi-puisi cinta.Pu
Isi-puisi yang dihimpun dalam antologi
Permata seorang dara, berisi gambaran aspek-aspek percintaan dari pengalamannya
sendiri dan pengalaman orang lain
  1. Muluk al-thawaif dianggap penyair  paling besar di Andalusia
    pada masa itu
Seirama dengan perkembangan syair, berkembang pula musik
dan seni suara.Hasan Ibn Nafi’ yang lebih dikenal dengan panggialn Ziryab
mempunyai keahlian dalam seni musik dan tarik suara, pengaruhnya masih membekas
sampai sekarang, bahkan dia dianggap peletk dasar dari musik Spantol modern.

1000 dan 1 Malam

12.7.2005 – 1000 dan 1 Malam (Alfu Lailah Wa Lailah)
Siapa yang tidak kenal dengan cerita Aladin dan Lampu Wasiat, Ali Baba dengan Empat Puluh Penyamun, dan Sindbad si Pelaut. Apalagi sejak ditayangkan secara visual di layar kaca ataupun layar perak produksi Holywood. Semuanya pasti setuju bahwa kisah itu diambil dari Kisah Seribu Satu Malam. Kisah yang amat terkenal dari abad-abad lampau hingga saat ini. Tapi tahukah Anda bahwa kisah itu adalah cuma terjemahan saja dan bukan buatan sastrawan-sastrawan ternama pada puncak kejayaan Baghdad?
Saat itu Kekhalifahan Abbasiyah berada pada puncak tangga tamadun. Politik, agama, ekonomi, sosial, budaya, dan di segala bidang lainnya mengalami kemajuan pesat daripada masa-masa sebelumnya. Salah satunya adalah di bidang sastra. Berbeda dengan pada masa Bani Umayyah yang hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak dari berkesenian—ini dikarenakan pula Bani Umayyah adalah bani yang sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab, maka pada zaman Bani Abbasiyah inilah prosa berkembang subur. Mulai dari novel, buku-buku sastra, riwayat, hikayat, dan drama.
Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik pusi maupun prosa. Dari yang ahli sebagai penyair (seperti Abu Nuwas), pembuat novel dan riwayat (asli maupun terjemahan), hingga pemain drama.
A Hasymy dalam bukunya berjudul Sejarah Kebudayaan Islam mengungkapkan perkembangan salah satu seni sastra itu yakni tentang novel terjemahan. Di sana disebutkan bahwa kebanyakan novel diterjemahkan dari bahasa Persia dan Hindi. Ada yang sesuai dengan aslinya atau diterjemahkan dengan ditambahkan perubahan-perubahan bahkan disadur.
Salah satu novel terjemahan yang termasyhur itu adalah Alfu Lailah Wa Lailah. Novel ini berupa hikayat yang disadur dari bahasa Persia sebelum abad IV Hijriyah. Walaupun bentuknya saduran namun menceritakan tentang kehidupan mewah masyarakat Islam pada masa itu.
Dalam Ensiklopedi Islam Jilid I (EI1) disebutkan pula tentang hikayat ini bahwa ia berasal dari kumpulan cerita berbahasa Persia yang berjudul Hazar Afsanak (Seribu Cerita) yang ditulis ulang oleh Abdullah bin Abdus al-Jasyyari (942 M).
Ada yang berpendapat bahwa hikayat ini ditulis oleh lebih dari satu orang pada periode yang berbeda, berikut periode tersebut (EI1 hal.106):
- Bentuk pertama adalah terjemahan harfiah dari Hazar Afsanak, diperkirakan berjudul Alf Khurafat (Seribu Cerita yang Dibuat-buat);
- Bentuk kedua Hazar Afsanak dengan versi Islam berjudul (Seribu Malam), pada abad 8;
- Bentuk ketiga berupa cerita Arab dan Persia dibuat pada abad 9;
- Bentuk keempat adalah susunan al-Jasyyari pada abad ke-10 yang mencakup Alf lailah dan cerita-cerita lain;
- Bentuk Kelima kumpulan yang diperluas dari susunan al-Jasyyari dengan tambahan cerita-cerita Asia dan dan Mesir, abad ke-12, pada periode ini judul itu berubah menjadi Alfu Lailah Wa Lailah
- Bentuk Keenam adalah Alfu Lailah Wa Lailah ditambah dengan cerita-cerita kepahlawanan dinasti Mamluk sampai awal abad ke-16.
****
Kisah atau hikayat yang diceritakan itu ada yang mengenai jin, kisah percintaan, legenda, cerita pendidikan, cerita humor, dan anekdot. Kebanyakan berlatar belakang kehidupan istana di Baghdad, Syam, dan Mesir (EI1 hal. 107).
Secara garis besar kisahnya adalah sebagai berikut:
Kisah ini dituturkan dngan gaya bercerita oleh Syahrizad, istri Raja Syahriyar, yang bercerita atas permintaan adiknya, Dunyazad, dan didengarkan oleh sang raja. Syahrizad bercerita agar sang raja tidak melakukan pembunuhan terhadap istrinya.
Disebutkan bahwa Raja Syahriyar dan adiknya, Raja Syahzaman, pada mulanya adalah raja yang adil selama 20 tahun pemerintahannya, namun kemudian berubah menjadi raja yang kejam yang membunuh setiap wanita yang dikawininya pada malam pertama pernikahan. Perubahan sifat raja berawal dari penyelewengan istrinya dan penyelewengan istri adiknya yang melakukan perzinahan dengan budak berkulit hitam sewaktu raja pergi berburu. Perbuatan itu dilihatnya sendiri karena ia tiba-tiba pulang untuk mengambil sesuatu yang terlupa. Istrinya yang berkhianat dan budak itu dibunuhnya. Ketika ia berada di negeri adiknya, Syahzaman, ia juga melihat perbuatan seorang istri adiknya dengan budak berkulit hitam sewaktu adiknya tidak berada di rumah.
Syahriyar menjadi orang yang tidak percaya pada setiap wanita. Dendamnya pada wanita dilampiaskannya pada gadis-gadis yang dinikahinya. Setelah beberapa lama, di negeri itu sudah tidak didapatkan lagi gadis yang akan dipersembahakan kepada raja, kecuali puteri wazir, yaitu Syahrizad.
Syahrizad bersedia dinikahkan dengan raja untuk menyelamatkan nyawa wanita-wanita yang lain. Syahrizad digambarkan sebagai wanita cerdas yang banyak membaca cerita, hikayat, dan kisah lama. Sejak malam pertama sampai malam ke 1001, ia bercerita berbagai cerita secara bersambung sampai subuh dan bila siang hari ia tidak bercerita. Dengan cerita-cerita ini akhirnya raja sadar dan insaf, dan puteri Syahrizad selamat dari pembunuhan. (EI1 hal. 107)
****
Penyebaran Alfu Lailah Wa Lailah ke Eropa dalam bahasa Perancis dilakukan pertama kali oleh sarjana Perancis, Jean Anthoni Galland. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dikenal dengan judul The Arabian Nights.
Singkatnya baru pada tahun 1896 buku yang diterbitkan oleh percetakan negara Bulaq—dekat Kairo, diberi gambar oleh Husyain Biykar. Edisi Bulaq inilah yang di kemudian hari menjadi patokan dalam penterjemahan ke dalam bahasa-bahasa terkenal dunia. (EI1 hal 106).
Namun sayangnya penggambaran-penggambaran itu membuat 1001 Malam lebih berubah. Dulu sekali, dalam sebuah film barat yang judulnya saya lupa, di salah satu adegannya diceritakan tentang seseorang yang sedang membaca buku 1001 Malam yang dipenuhi dengan gambar-gambar vulgar dari orang bersurban (sultan?) sedang berhubungan intim dengan lawan jenis.
Jadi pada saat ini kisah 1001 malam (versi barat) tidak bedanya dengan kisah-kisah porno. Tapi entahlah, saya belum pernah memegang buku itu sekalipun, baik dalam versi asli maupun terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Saya hanya tahu kisah itu dari dongeng-dongeng yang bertebaran di majalah Ananda dan Bobo, dulu. Namun dari film-film kartun produksi Holywood, setidaknya kita bisa berpikir dan bertanya dalam hati sudah Islamikah? Tentu tidak.
Betul 1001 Malam muncul pada saat kejayaan umat Islam mencapai puncaknya di Baghdad sehingga stereotip yang ada adalah bahwa 1001 Malam adalah sastra Islam, namun dengan melihat kenyataan yang ada, patutkah ini disebut sastra Islam atau sastra bersumberkan Islam?*) Sedangkan sastra bisa dikategorikan sebagai ‘sastra bersumberkan Islam’ bila ianya mengusung nilai-nilai universal yang tak bertentangan (atau malah sesuai) dengan ajaran Islam.(Helvi: 2003).
Allohua’lam.
*)Pada saat masa puncak itulah terjadi pertentangan antara ulama-ulama terpercaya dengan para seniman yang mulai beraninya (dengan dukungan para pejabat istana tentunya) mengembangkan seni yang dilarang pada masa-masa awal atau masa sebelumnya (dinasti Umayyah) yakni bermain musik, bermain drama dengan peran wanita dipertontonkan di hadapan penonton pria, kubah-kubah istana dan kaligrafi-kaligrafi bergambar makhluk hidup, dan patung-patung manusia.
Maraji’:
C Israr; Sejarah Kesenian Islam; Bulan Bintang; 1978;
A Hasymy; Sejarah Kebudayaan Islam; Bulan Bintang; 1995;
Ensiklopedia Islam Jilid 1; PT Ikhtiar Baru Van Hoeve; 1999;
Helvy Tiana Rosa; Segenggam Gumam; PT Syaamil Cipta Media; 2003;
Philip K. Hitti; History of The Arabs; PT Serambi Ilmu Semesta; 2005
Secara garis besar, karya adab dibedakan atas dua genre ( النوع ), yaitu puisi (الشعر) dan prosa ( النثر ). Secara kategoris, puisi bisa dibedakan atas puisi perasaan (الشعر الغنائي أوالوجداني ), puisi cerita (الشعر القصصي أو الملحمي), puisi perumpamaan (الشعر التمثيلي ), dan puisi pengajaran ( الشعر التعليمي ). Prosa bisa dibedakan atas prosa tertulis dan prosa tak tertulis.
Prosa tertulis meliputi prosa naratif (القصة) dan prosa non naratif (المقال). Prosa naratif meliputi biografi (الرواية), kisah (القصة) , cerita pendek (الأقصوصة = القصة القصيرة), dan novel. Adapun prosa non naratif bisa dibedakan atas prosa subyektif (argumentasi/persuasi) (المقال الذاتي) dan prosa obyektif (deskripsi/eksposisi) (المقال الموضوعي). Prosa tak tertulis meliputi pidato (الخطابة), ceramah (baik ceramah audiovisual (المحاضرة) maupun ceramah auditorial (الحديث الاذاعي), dan drama (المسرحية). Drama sendiri dibedakan atas drama komedi (الملهاة) dan drama nonkomedi (المأساة). Diantara berbagai genre adab diatas, novel dan drama merupakan genre yang tidak asli Arab, akan tetapi datang dari Eropa.
Perkembangan adab dari masa ke masa
Pada zaman jahiliyah, genre adab yang paling n ialah puisi. Saat itu puisi yang paling populer ialah المعلقات (Puisi-puisi Yang Tergantung). Disebut demikian karena puisi-puisi tersebut digantungkan di dinding Ka’bah. Dinding Ka’bah kala itu kurang lebih juga berfungsi sebagai “majalah dinding”. Penyair yang paling terkenal pada masa jahiliyyah ialah Imru’ul Qais. Disamping itu tercatat pula nama-nama seperti Al-A’syaa, Al-Khansa, dan Nabighah Adz-Dzibyani.
Berdasarkan temanya, puisi zaman jahiliyah dibedakan atas الفخر (membangga-banggakan diri atau suku), الحماسة (kepahlawanan), المدح (puji-pujian), الرثاء (rasa putus asa, penyesalan, dan kesedihan),الهجاء (kebencian dan olok-olok), الوصف (tentang keadaan alam), الغزل (tentang wanita), الاعتذار (permintaan maaf).
Setelah Islam datang, tidak berarti bahwa puisi-puisi menjadi dilarang. Islam datang untuk memelihara yang sudah baik, memperbaiki yang kurang baik, menghilangkan yang buruk-buruk saja, dan melengkapi yang masih lowong. Tentang puisi, Nabi bersabda,”إن من الشعر حكمة (Sesungguhnya diantara puisi itu terdapat hikmah)”. Ketika Hasan ibn Tsabit (شاعر الإسلام ) mengajak untuk mencemooh musuh – musuh Islam, Nabi berkata, ”هجاهم و جبريل معك (Cemoohlah mereka, Jibril bersamamu)”. Nabi pernah memuji puisi Umayyah ibn Abu Shalti, seorang penyair jahiliyah yang menjauhi khamr dan berhala. Nabi juga pernah memuji puisi Al-Khansa, seorang wanita penyair zaman jahiliyyah. Bahkan, Nabi pernah menghadiahkan burdah (gamis)-nya kepada Ka’ab ibn Zuhair saat Ka’ab membacakan qasidahnya yang berjudul بنات سعاد . Karena itu, muncullah apa yang disebut dengan Qasidah Burdah. Di masa permulaan Islam ini, berkembang pula genre pidato dan surat korespondensi. Surat-surat pada mulanya dibuat oleh Nabi untuk menyeru raja-raja di sekitar Arab agar masuk Islam.
Pada masa Bani Umayyah, muncul tema-tema politik dan polemiknya sebagai dampak dari ramainya pergelutan politik dan aliran keagamaan. Namun, pada masa ini Islam juga mencapai prestasi pembebasan (القتوح) yang luar biasa, sehingga banyak memunculkan شعر الفتوح و الدعوة الإسلامية (Puisi Pembebasan dan Dakwah Islam). Para penyair yang terkenal pada masa ini antara lain Dzur Rimah, Farazdaq, Jarir, Akhtal, dan Qais ibn Al-Mulawwih (terkenal dengan sebutan Majnun Laila).
Pada zaman Bani Abbasiyah, surat menyurat menjadi semakin penting dalam rangka penyelenggaraan sistem pemerintahan yang semakin kompleks. Dalam genre prosa, muncul prosa pembaruan (النثر التجديدي) yang ditokohi oleh Abdullah ibn Muqaffa dan juga prosa lirik yang ditokohi oleh antara lain Al-Jahizh. Salah satu prosa terkenal dari masa ini ialah Kisah Seribu Satu Malam (ألف ليلة و ليلة). Dalam dunia puisi juga muncul puisi pembaruan yang ditokohi oleh antara lain Abu Nuwas dan Abul Atahiyah.
Masa Bani Abbasiyah sering disebut-sebut sebagai Masa Keemasan Sastra Arab. Karena Islam juga eksis di Andalusia (Spanyol), maka tidak ayal lagi kesusastraan Arab juga berkembang disana. Pada zaman Harun Al-Rasyid, berdiri Biro Penerjemahan Darul Hikmah. Namun hal lain yang perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi kekeliruan berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa Arab dengan bangsa ajam (non Arab).
Sejarah Hidup Ibnu Al-Muqoffa’ dan karya-karyanya
Ibnu al-Muqoffa’ hidup dan tumbuh pada saat terjadi pergolakan dan konfilk di masyarakat. Saat itu terjadi peralihan kekuasaan dari Dinasti Umayah ke tangan Dinasti Abbasiyah, yang ditandai dengan terjadi banyak konflik. Maka pada saat itu keadaan politik di dunia Islam carut-marut dengan kondisi tersebut. Kehidupan umat Islam dan masyarakat Arab terus mengalami pergolakan yang berkepanjangan sehingga akhirnya Dinasti Abbasiyah dapat meraih tampuk kekuasaan dari Dinasti Umayyah. Ibnu al-Muqoffa’ dilahirkan di sebuah kampung dekat Shiraz, Persia, sekitar tahun 80 H. Ia dilahirkan dari dua darah kebudayaan. Ayahnya, Dzazuwih berdarah Persia dan ibunya berasal dari keturunan bangsa Arab. Maka dari sinilah ia banyak mewarisi dua kultur tersebut. Sehingga ia bertekad untuk menjembatani dari dua peradaban tersebut, yakni peradaban Persia dan Arab.
Sebenarnya nama Ibnu al-Muqoffa’ yang asli adalah Ruzbah. Ketika ia masih muda dinamakan Kunyah Abu Amru. Namun setelah masuk Islam Ia bernama Abdullah. Sedangkan nama Ibnu al-Muqoffa’ adalah julukan bagi ayahnya. Dazuwih adalah ayahnya yang beragama Majuzi. Ayahnya bekerja dan mengabdi kepada Gubernur Hajjaj Yusuf al-Thaqafi, sebagai pemungut pajak. Namun setelah lama bekerja, ayahnya tertangkap basah menyalahkangunakan dana hasil pemungutan pajak. Sehingga ia dihukum dera tangannya sampai lumpuh. Maka mulai saat itulah Dazuwih dijuluki al-Muqoffa’ yang berarti Si Lumpuh. Nama itu kemudian disandarkan kepada Ibnu al-Muqoffa’.Sejarah kehidupannya tidak banyak diketahui akan tetapi sedikit banyak disebutkan dalam beberapa literarur bahwa Ibnu al-Muqoffa’ dikenal sebagai sosok yang memilki kepribadian yang agung dan terpuji, luas pengetahuannya, dan ia juga dikenal sebagai pribadi yang terpadu dan memiliki latar budaya Islam yang luas serta seorang pemikir yang menjembatani antara perdaban Persia dan Arab. Ia juga menguasai berbagai bahasa seperti Bahasa Arab, Suryani, Pahlewi, Sankrit, dan Yunani. Dia banyak mendalami dan mempelajari sejarah dan Peradaban Persia Lama dan ia juga gemar membaca naskah-naskah lama dengan kemampuannya tersebut. Selain itu dalam karirnya, ia dikenal sebagai juru tulis istana kerajaan.Ketika berusia belasan tahun keluarganya pindah ke Basrah dan di sini ia memperdalam penguasaannya terhadap Bahasa Arab. Basrah ketika itu telah merupakan pusat pengetahuan dan kebudayaan Islam. Di kota ini terdapat pasar Mirbad yang merupakan tumpuan para ulama, cerdik cendikia dan sastrawan untuk berkumpul dan saling memperbincangkan falsafah, agama dan ilmu pengetahuan.[1]Pada saat Dinasti Abbasiyah berkuasa Ibnu al-Muqoffa’ memulai gerakan penulisannya dengan menjadi juru tulis kerajaan, yang ibukotanya berpusat di Baghdad. Akhirnya ia pun pindah ke sana dan melibatkan diri dengan kaum kerabat al-Manshur, khalifah Abbasiyah, setelah mendapat posisi penting sebagai juru tulis kerajaan, yang diangkat oleh Gubernur Isa bin Ali di Kirman dan saat itu juga Ia memeluk agama Islam. Namun pada akhir hayatnya banyak orang yang menuduhnya sebagai Zindiq. Mereka memfitnah Ibnu al-Muqoffa’ zindiq karena mereka mempertanyakan dan mensangsikan tentang keyakinannya dan keislamannya dalam beragama Islam. Ia harus rela meninggal di tangan Sufyan bin Mu’awiyah pada tahun 143 H dalam usia 60 tahun, sebagai konsekuensi atas nilai dan keyakinannya. Dihukum mati atas tuduhan zindiq sebagai fitnah belaka, orang yang tidak suka terhadapnya.Walaupun akhir hayatnya begitu mengharukan, namun buah karyanya tidak dapat dilupakan akan tetapi sebaliknya menjadi legenda untuk semua orang. Buah karyanya begitu masyhur, hingga sampai saat ini pun kita dapat menikmati karya-karyanya itu.
Karya-karya Ibnu al-Muqoffa’ sangat banyak namun dikatakan bahwa karyanya yang sampai saat ini ada, hanya berjumlah lima buah yakni:
Pertama, Al-Adab al-Shagir atau adab kecil
Kedua, Al-Adab al-Kabir atau adab besar
Ketiga, Risalah Al-shahabat atau uraian tentang persahabatan
Keempat, Al-Yatimah Fi Taat al-Sulthan
Kelima, Kalilah Wa dimnah
Namun dari sekian banyak karyanya yang berupa terjemahan, Kalilah Wa Dimnah begitu masyhur sampai saat ini. Karyanya ini diterjemahkan dari Bahasa Persia ke Bahasa Arab. Walaupun karyanya tersebut adalah berupa terjemahan dari Baidaba, namun Ia tidak mengubah isi yang terkandung di dalam karya aslinya. Ia hanya menyisipkan beberapa cerita-cerita dalam karya tersebut.
Pada awalnya, prosa dalam khazanah sastra Arab berbeda secara terminologis dengan apa yang dikenal dalam sastra modern seperti yang dikemukakan Abrams.[12] Prosa dalam sastra Arab awal lebih sesuai bila diartikan sebagai seni retorika, mulai dari bentuk tulisan formal administratif perkantoran (Kitabah) hingga seni orasi (khita>bah). Seni khita>bah tidak seberuntung kita>bah karena ia berbentuk literacy (keberaksaraan) sementara penduduk Arab adalah masyarakat yang lebih mengutamakan kelisanan. Seni kita>bah baru bisa dikatakan sebuah seni pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik, penguasa Dinasti Umayyah. Pada saat ini, Abdul Hamid al-Katib menawarkan bentuk baru dalam seni tulisan, seperti ucapan selamat, terima kasih, bela sungkawa, keberatan, dan kerinduan.
Pada masa Abbasiyah, pertumbuhan prosa menunjukkan perkembangan baru. Pada awalnya memang masih berbentuk prosa ilmiah yang prosais atau seni retorika yang tertulis, seperti yang diperkenalkan oleh al-Jahiz (160-255 H/771-836 M) dalam karangannya dalam ilmu botani dan hewani, etika dan kemasyarakatan. Dalam banyak literatur, al-Jahiz dikenal sebagai kontributor terbesar yang menyusun ensiklopedi sastra dalam bukunya al-Baya>n wa al-Tabyi>n.[13] Pada masa berikutnya, prosa Arab bernama al-Maqamat yang diperkenalkan Badi’ Zaman al-Hamzany (358-398 H/969-1007 M) mulai berbentuk cerita seperti yang dipahami dalam terminologi prosa modern. Al-Maqa>ma>t didefinisikan sebagai perumpamaan aktual tentang kehidupan yang dikemukakan dalam sebuah forum, berbentuk cerita pendek dengan seorang tokoh cerita. Keunggulan Al-Maqa>ma>t terletak pada keindahan bahasa yang digunakan. Tidak heran bila tujuan Al-Maqa>ma>t lebih berorientasi pada pertunjukkan kemampuan seseorang dalam permaianan dan keindahan bahasa sehingga ia dijadikan media untuk mendidik pemuda Arab dalam memperbaiki bahasa mereka. Sementara pesan, ide dan makna cerita tidak menjadi perkara yang dominan.[14] Kekurangan al-Jahiz disempurnakan oleh al-Hariri (446-516 H/1054-1222 M) yang telah mementingkan pesan dalam Al-Maqa>ma>tnya, seperti pesan-pesan keagamaan di samping juga permainan bahasa.
Prosa Arab terus menapaki penyempurnaan. Setelah muncul Al-Maqa>ma>t yang berakar dari budaya asli. Kini peradaban Arab Abbasiyah telah bersentuhan dengan kebudayaan lain dengan media penerjemahan. Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak masa Daulah Umayyah, upaya besar-besaran untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip berbahasa asing terutama Bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah. Para ilmuwan diutus ke daerah Bizantium untuk mencari naskah-naskah Yunani dalam berbagai bidang ilmu terutama filsafat dan kedokteran. Perburuan manuskrip di daerah timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang tata negara dan sastra. para penerjemah tidak hanya dari kalangan Islam tetapi juga dari pemeluk Nasrani dari Syiria dan Majusi dari Persia. Biasanya naskah berbahasa Yunani diterjamahkan ke dalam bahasa Syiria kuno dulu sebelum ke dalam bahasa Arab. Hal ini dikarenakan para penejemah biasanya adalah para pendeta Kristen Syirian yang hanya memahami bahasa Yunani dan bahasa mereka sendiri yang berbeda dari bahasa Arab. Kemudian, para ilmuwan yang memahami bahasa Syiria dan Arab menerjemahkan naskah tersebut ke dalam bahasa Arab.

KALILAH WA DIMNAH, FABEL HIKMAH DAN INSPIRASI

Pada awal abad ke-8 M, dalam dunia sejarah sastra Arab, sesungguhnya kegiatan menulis prosa sudah dimulai saat dinasti Umayah berkuasa. Ini dapat dibuktikan dengan adanya karya besar Ali bi Abi Thalib, yakni Nahj Al Balaghah. Karya besar ini sebenarnya berbentuk prosa akan tetapi orang-orang Arab tidak berpandangan demikian. Prosa tidak begitu berkembang disebabkan, pada saat Dinasti Umayyah berkuasa, para penguasa terlalu menempatkan dan memposisikan bangsa Arab dalam kegiatan di bidang sastra dan intelektual sehingga mereka menganggap bahwa sastra Arab adalah sastra yang paling unggul dibanding dengan sastra-sastra lainnya. Akhirnya penulisan prosa tidak begitu berkembang karena mereka lebih berminat  dan senang untuk menulis puisi dari pada prosa. Namun keadaan ini berubah saat peralihan kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke tangan Dinasti Abbasiyah. Pada saat itulah prosa mengalami perkembangan dan kemajuan. Para khalifah Abbasiyah mulai memberikan kesempatan dan peluang kepada orang-orang non-Arab (‘Ajm) untuk ikut andil dalam kegiatan penulisan di bidang sastra dan intelektual. Hal ini tidak seperti yang terjadi pada masa dinasti Umayyah berkuasa, yang hanya memprioritaskan orang-orang Arab dalam kegiatan di bidang sastra. Pada masa Abbasiyah, penulisan di bidang sastra mulai melibatkan orang non-Arab, yang sudah menguasai bahasa Arab, khususnya penulis Persia karena mereka juga mempunyai tradisi lama dalam sastra, khususnya dalam penulisan prosa yang kemungkinan dapat terus mengembangkan prosa saat itu.Ketika Dinasti Umayyah berkuasa, penulisan prosa berkembang begitu lambat karena hanya sebatas merekam, mencatat, dan mengumpulkan hadist-hadist Nabi serta peperangan yang terjadi saat itu. Penulisan prosa mulai berkembang pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Disebutkan bahwa sepanjang dinasti Abbasiyah, ada tiga jenis prosa yang berkembang saat itu. Yaitu, al-Qishas (kisah), al-Maqamat, dan al-Tawq’at. Pertama al-Qishas adalah genre sastra yang belum pernah dikenal dalam tradisi jahiliyah walaupun mereka mempunyai cerita-cerita yang disampaikan secara lisan. Al-Qur’an sangat mendorong dan mempengaruhi karya ini. Misalnya kisah-kisah yang tercantum di dalamnya yakni, Qisah al-Anbiya atau kisah para Nabi, ada pula cerita berbingkai seperti Kalilah Wa Dimnah, dll. Kedua, al-Maqamat yaitu himpunan cerita-cerita pendek. Ketiga, al-Tawq’at yaitu genre yang digemari hingga saat ini dan merupakan karangan yang ringkas dan indah bahasanya.Itulah tadi jenis-jenis prosa yang tidak dibahas secara detail. Namun dalam tulisan ini sedikit banyak hanya akan membahas salah satu contoh jenis prosa pertama yakni al-Qishas yang ditulis dalam bentuk fabel atau cerita berbingkai yaitu Kalilah Wa Dimnah oleh Ibnu Al-Muqoffa’. Walaupun karya tersebut adalah terjemahan dari karya Baidaba, filosof India, namun Ibnu Al-Muqoffa’ menjadikan karya tersebut begitu masyhur tanpa mengubah makna yang terkandung di dalam karya aslinya. Hal ini disebabkan relevansi karyanya begitu menonjol dibanding karya penulis-penulis lain sezamannya. Karya tersebut begitu berpengaruh terhadap perkembangan sastra Arab dan juga terhadap sastra dunia. Karya ini merupakan prosa yang menggemakan nilai etis-moral dan religiusitas bagi masyarakat dan di dalamnya tidak hanya tersurat bacaan akan tetapi juga tersirat tuntunan. Dalam tulisan ini terdiri dari beberapa bagian. Pertama, pendahuluan. Pada bagian yang kedua, pembahasan yang terdiri; sejarah hidup Ibnu al-Muqoffa’ beserta karya-karyanya, sejarah teks, sejarah terjemahan, kronologis cerita, Karya titik temu dunia Timur dan Barat. Pada bagian terakhir, berupa kesimpulan.
Sejarah Hidup Ibnu Al-Muqoffa’ dan karya-karyanya
Ibnu al-Muqoffa’ hidup dan tumbuh pada saat terjadi pergolakan dan konfilk di masyarakat. Saat itu terjadi peralihan kekuasaan dari Dinasti Umayah ke tangan Dinasti Abbasiyah, yang ditandai dengan terjadi banyak konflik. Maka pada saat itu keadaan politik di dunia Islam carut-marut dengan kondisi tersebut. Kehidupan umat Islam dan masyarakat Arab terus mengalami pergolakan yang berkepanjangan sehingga akhirnya Dinasti Abbasiyah dapat meraih tampuk kekuasaan dari Dinasti Umayyah. Ibnu al-Muqoffa’ dilahirkan di sebuah kampung dekat Shiraz, Persia, sekitar tahun 80 H. Ia dilahirkan dari dua darah kebudayaan. Ayahnya, Dzazuwih berdarah Persia dan ibunya berasal dari keturunan bangsa Arab. Maka dari sinilah ia banyak mewarisi dua kultur tersebut. Sehingga ia bertekad untuk menjembatani dari dua peradaban tersebut, yakni peradaban Persia dan Arab.
Sebenarnya nama Ibnu al-Muqoffa’ yang asli adalah Ruzbah. Ketika ia masih muda dinamakan Kunyah Abu Amru. Namun setelah masuk Islam Ia bernama Abdullah. Sedangkan nama Ibnu al-Muqoffa’ adalah julukan bagi ayahnya. Dazuwih adalah ayahnya yang beragama Majuzi. Ayahnya bekerja dan mengabdi kepada Gubernur Hajjaj Yusuf al-Thaqafi, sebagai pemungut pajak. Namun setelah lama bekerja, ayahnya tertangkap basah menyalahkangunakan dana hasil pemungutan pajak. Sehingga ia dihukum dera tangannya sampai lumpuh. Maka mulai saat itulah Dazuwih dijuluki al-Muqoffa’ yang berarti Si Lumpuh. Nama itu kemudian disandarkan kepada Ibnu al-Muqoffa’.Sejarah kehidupannya tidak banyak diketahui akan tetapi sedikit banyak disebutkan dalam beberapa literarur bahwa Ibnu al-Muqoffa’ dikenal sebagai sosok yang memilki kepribadian yang agung dan terpuji, luas pengetahuannya, dan ia juga dikenal sebagai pribadi yang terpadu dan memiliki latar budaya Islam yang luas serta seorang pemikir yang menjembatani antara perdaban Persia dan Arab. Ia juga menguasai berbagai bahasa seperti Bahasa Arab, Suryani, Pahlewi, Sankrit, dan Yunani. Dia banyak mendalami dan mempelajari sejarah dan Peradaban Persia Lama dan ia juga gemar membaca naskah-naskah lama dengan kemampuannya tersebut. Selain itu dalam karirnya, ia dikenal sebagai juru tulis istana kerajaan.Ketika berusia belasan tahun keluarganya pindah ke Basrah dan di sini ia memperdalam penguasaannya terhadap Bahasa Arab. Basrah ketika itu telah merupakan pusat pengetahuan dan kebudayaan Islam. Di kota ini terdapat pasar Mirbad yang merupakan tumpuan para ulama, cerdik cendikia dan sastrawan untuk berkumpul dan saling memperbincangkan falsafah, agama dan ilmu pengetahuan.[1]Pada saat Dinasti Abbasiyah berkuasa Ibnu al-Muqoffa’ memulai gerakan penulisannya dengan menjadi juru tulis kerajaan, yang ibukotanya berpusat di Baghdad. Akhirnya ia pun pindah ke sana dan melibatkan diri dengan kaum kerabat al-Manshur, khalifah Abbasiyah, setelah mendapat posisi penting sebagai juru tulis kerajaan, yang diangkat oleh Gubernur Isa bin Ali di Kirman dan saat itu juga Ia memeluk agama Islam. Namun pada akhir hayatnya banyak orang yang menuduhnya sebagai Zindiq. Mereka memfitnah Ibnu al-Muqoffa’ zindiq karena mereka mempertanyakan dan mensangsikan tentang keyakinannya dan keislamannya dalam beragama Islam. Ia harus rela meninggal di tangan Sufyan bin Mu’awiyah pada tahun 143 H dalam usia 60 tahun, sebagai konsekuensi atas nilai dan keyakinannya. Dihukum mati atas tuduhan zindiq sebagai fitnah belaka, orang yang tidak suka terhadapnya.Walaupun akhir hayatnya begitu mengharukan, namun buah karyanya tidak dapat dilupakan akan tetapi sebaliknya menjadi legenda untuk semua orang. Buah karyanya begitu masyhur, hingga sampai saat ini pun kita dapat menikmati karya-karyanya itu.
Karya-karya Ibnu al-Muqoffa’ sangat banyak namun dikatakan bahwa karyanya yang sampai saat ini ada, hanya berjumlah lima buah yakni:
Pertama, Al-Adab al-Shagir atau adab kecil
Kedua, Al-Adab al-Kabir atau adab besar
Ketiga, Risalah Al-shahabat atau uraian tentang persahabatan
Keempat, Al-Yatimah Fi Taat al-Sulthan
Kelima, Kalilah Wa dimnah
Namun dari sekian banyak karyanya yang berupa terjemahan, Kalilah Wa Dimnah begitu masyhur sampai saat ini. Karyanya ini diterjemahkan dari Bahasa Persia ke Bahasa Arab. Walaupun karyanya tersebut adalah berupa terjemahan dari Baidaba, namun Ia tidak mengubah isi yang terkandung di dalam karya aslinya. Ia hanya menyisipkan beberapa cerita-cerita dalam karya tersebut.
Sejarah  asal-usul dan TerjemahanTeks
Kalilah Wa Dimnah merupakan kitab karya filosof India yakni Baidaba. Karya tersebut diterjemahkan Ibnu al-Muqoffa’ tanpa mengubah inti arti karya aslinya. Ia menyisipkan cerita-cerita berbingkai di dalam karya tersebut. Menurut Bahnud Ibn Sahwan atau dikenal dengan Ali bin Syah al-Farisi, tujuan Baidaba membuat karya Kalilah Wa Dimnah adalah atas permintaan raja Dabsyalim dan untuk dipersembahkan kepada raja Dabsyalim, raja India pada abad ke-3 SM.[2]Setelah karya ini selesai dibuat selama beberapa kurun waktu. Baginda raja Dabsyalim bermaksud memberi penghargaan terhadapnya namun ia menolak untuk menerima imbalan tersebut. Namun permintaannya kepada sang raja adalah agar sang raja bisa menjaga dan menyimpan dengan baik kitab karyanya tersebut agar tidak ada yang mengambilnya.
Pada pertengahan abad VI atau tepatnya 672 M, Persia dipimpin raja yang bernama Anusirwan Ibnu Qudaba. Ia mendengar bahwa di India ada karya Kalilah Wa Dimnah yang terkenal atau masyhur. Karena Ia adalah orang termasuk suka terhadap ilmu pengetahuan maka timbul dalam hatinya berambisi untuk memilikinya. Akhirnya Ia memerintahkan Barzawy (seorang dokter istana dan orang kepercayaannya) untuk pergi ke India, mengambil dan membawa kitab itu ke hadapannya. Rencananya itu berhasil. Barzawy dapat membawa manuskrip itu kepada raja dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia atau bahasa Pahlewi. Kemudian teks ini hilang, namun untungnya teks ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Syiria, sehingga melalui inilah karya Ibnu al-Muqoffa’ diterjemahkan dalam bahasa Arab sehingga sampai sekarang bisa kita baca.   Kitab ini ditulis berdasarkan teks sansekerta berjudul pancatranta. Teks aslinya, pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Tibet. Teks asli dalam bahasa Sanskrit hilang dan tidak pernah diketemukan. Dan kemudian teks dalam bahasa Tibet pun juga hilang. Yang dijumpai adalah teks yang terdiri dari lima bagian yang disebut pancatranta, padahal sebelumnya terdiri dari tujuh bagian. Teks yang tidak lengkap inilah yang kemudian banyak diterjemahkan ke dalam bahasa India.
Terjemahan-Terjemahan Teks
Dikatakan dalam sejarahnya bahwa Kalilah Wa Dimnah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, ada yang menerjemahkan dalam bahasa Tibet, bahasa Parsi, bahasa Suryani, dan bahasa Arab. Terjemahan-terjemahannya sebagai berikut:
Terjemahan ke Bahasa Tibet
Hikayat Kalilah Wa Dimnah, pada awal sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet. Tapi sekarang tak ada lagi buku yang cukup berisi semua cerita itu. Hanya sebagian saja daripada cerita-cerita masih tersua sekarang dalam bahasa itu. Lalu, Banyak orang yang mengira bahwa kareya tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Disebabkan jangka waktu yang lama sehingga karya (kitab) dalam bahasa tersebut hilang tidak diketemukan.
Terjemahan ke Bahasa Parsi Tua
Ketika abad ke-6 Masehi, ada seorang raja yang memimpin Persi, yang bernama Anusyirwan. Ia adalah seorang  yang senang akan ilmu pengetahuan sehingga ia menjadi masyhur karena hal tersebut. Saat Ia mendengar bahwa ada sebuah karya (kitab) yang menarik dan terkenal di negeri India yang kitab itu dijaga baik oleh rajanya, akhirnya Ia mengutus Barzuwih seorang dokter istana sekaligus orang kepercayaannya. Baginda raja untuk mengambil kitab tersebut dan menerjemahkannya ke Bahasa Parsi. Akhirnya rencana itu berhasil. Begitulah kronologis hikayat tersebut ke dalam bahasa Parsi.
Terjemahan ke Bahasa Suryani
Pada awalnya banyak orang yang menyangka bahwa karya tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Namun kenyataaannya tidak demikian. Salinan itu ternyata diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani, kira pada tahun 570 M, oleh seorang pendeta Kristen.Penyalinan itu terbukti, dengan dinamai Qalilaj dan Damnaj. Boleh jadi demikianlah hikayat itu dinamai oleh penerjemah ke bahasa Parsi, dan penyalin ke bahasa Arab yang kemudian mengubahnya jadi Kalilah Wa Dimnah. Orang pandai-pandai Barat telah memperoleh naskah salinan bahasa Suryani itu, dan telah diterjemahkan ke bahasa terjemahkan ke bahasa Jerman di Leipzig pada tahun 1876 yang isinya hanya berisi sepuluh bab saja.[3]
Terjemhan ke Bahasa Arab
Karya itu juga diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Terjemahan dalam bahasa Arab inilah yang terpenting, karena dapat diterjemahkan ke bahasa Tamil. Sehingga karangan itu dapat diterjemahkan yang terdiri lima cerita ke dalam bahasa Jawa dan Madura. Dikatakan bahwa dalam bahasa Melayu, ada empat versi yang masyhur. Pertama ialah versi abad ke-17 yang oleh Wrendly disebutkan dalam bukunya Tata Bahasa Melayu yang judulnya, “Hikayat Kalilah Wa Dimnah” dan salinannya dalam bahasa latin ditulis oleh J.G. Gonggrijip pada tahun 1873. Versi kedua yaitu abad ke-19, kira-kira pada tahun 1835 yang disalin oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dari bahasa Tamil yang berjudul Hikayat Pancatanderan. Versi ketiga, yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1942 oleh Ismail Djamil yaitu karya yang langsung diterjemahkan oleh Ibnu al-Muqoffa’.Para Sejarawan mengadakan penelitian terhadap versi abad ke-17 M. setelah penelitian itu disimpulkan bahwa karya yang paling dekat dengan versi Persia adalah yang dikarang oleh Nasrullah tahun 1142, yang diberi judul Dalang atau Sagala Cerita dan Dongeng. Sebagaimana yang sudah disebutkan, kisah atau cerita yang masih tersisa dalam karya Baidaba adalah berjumlah lima buah cerita pokok, sedangkan  yang lainnya merupakan cerita-cerita sisipan  Ibnu al-Muqoffah di dalam karya itu. Kelima cerita-cerita utama tersbut adalah sebagai berikut:[4]
Rangka pertama: Diceritakan seekor srigala bernama Dimnah memutuskan tali persahabatan antara Singa dan lembu Syatrabah. Temanya mengenai bahaya fitnah dan hasutan yang beryjung pada pembunuhan dengan motif politk.
Rangka kedua: Kebersalahan kelompok dhuafa yang berhasil mengalahkan musuh yang kuat disebabkan mampu menghimpun solidaritas
Rangka ketiga: menceritakan persoalan yang menyangkut seluk-beluk politik dan siasat dalam peperngan
Rangka keempat: Menceritkan bagaimana orang yang bodoh terpedaya oleh perkataan yang ahlus dan bujuk rayu.
Rangka kelima: Menceritkan bahaya dari orang yang kurang pertimbangan dan suka tergopoh-gopoh dalam melakukan sesuatu.
Pada cerita-cerita pokok tersebut terdapat cerita-cerita sisipan dari tulisa Ibnu al-Muqoffah yang berjumlah dua belas dan cerita sisipan tersebut menyampaikan pesan moral untuk melengkapi cerita pokoknya.
Cerita-cerita sisipan tersbut sebagai berikut: Hikayat Singa dan Lembu, Hikayat Burung Merpati dengan Tikus, Hikayat Burung Hantu dengan Gagak, Hikayat Kera dengan Kura-kura, Hikayat Orang Saleh denga Cerpelai, Hikayat Tikus dengan Kucing, Hikayat Raja denga Burung Kakatua, Hikayat Singa denga Srigala yang Saleh, Hikayat Singa Betina dengan Pemanah, Hikayat  Raja Balad dengan Permaisuri Irah, Hikayat Musafir dengan Tukang Emas, dan Hikayat Anak Raja dan Kawan-kawannya
Kronologis Cerita
“Raja Dabsyalim berkata kepada Baidaba, sang filosof, Buatkan contoh alegoris untukku tentang dua orang yang salingSahabat yang saling menjalin cinta kasih, kemudian ada pihak ketiga seorang pendusta pintar dan licik, yang melakukan tipu muslihat dan menyulut api fitnah agar hubungan mereka retak dan timbul permusuhan”Sang filosof Baidaba berkata, “Jika dua orang bersahabat yang saling mencinta diuji dengan seorang pendusta yang licik dan pintar melakukan tipu muslihat, maka tidak lama kemudian hubungan mereka akan putusdan hancur karenanya. Mereka bahkan saling membenci dan memusuhi. Diantara contoh alegorisnya adalah kisah Singa dan Sapi Banteng.”[5]
Di atas merupakan sepenggal dialog antara Baidaba dan Raja Dabsyalim. Raja Dabsyalim meminta sang filosof membuat karya untuknya. Dengan menggunakan bahasa-bahasa binatang di dalamnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, kisah Kailah Wa Dimnah adalah cerita berbingkai yang ditokohkan lewat binatang, dengan tokoh utamanya Srigala bernama Dimnah. Dia iri melihat eratnya persahabatan antara Raja Hutan Singa dan Lembu Syatrabah. Tekad dan hasratnya begitu kuat untuk mengadu domba dan memutuskan tali persahabatan dan hubungan politik di antara keduanya. Dengan melalui tipu muslihatnya dan fitnah halusnya yang ditebarkan di antara kedua sahabat itu. Semua yang dilakukan Dimnah tidak lain hanya karena Ia haus akan kekuasaan dan rasa hasudnya belaka. Akhirnya intrik-intrik yang diterapkan Dimnah berhasil berhasil menghancurkan persahabatan dan hubungan politik mereka. Ketika Dimnah berhadapan dengan Singa, mengatakan bahwa Lembu, Syatrabah secara tersembunyi menyimpan taktik dan rencana untuk merampas kekuasaan dari tangan Singa. Sedangkan ketika Dimnah berhadapan dengan Syatrabah, melemparkan fitnah bahwa di balik sikap baik Singa ada ambisi politik yang berbahaya. Dari fitnah yang dilontarkan Dimnah kepada Syatrabah dan Singa, berhasil membuat keduanya jadi terbakar api kemarahan dan benci. Dengan kejeniusan Dimnah, keduanya dapat dipengaruhi oleh kata-katanya. Akhirnya Singa merencanakan intrik-intrik bagaimana membinasakan Syatrabah, yang sebenarnya teman baik baginya. Dikatakan Dimnah kepada Syatrabah bahwa Singa ingin membunuhnya karena di dalam hatinya Singa sebenarnya benci kepada Sytarabah. Karena Sytrabah pun termakan hasutannya akhirnya Syatrabah pun menyiapkan rencana dan taktik untuk mengadakan perlawanan, sebelum ia dilawan oleh Singa. Namun sayangnya, rencana Sytrabah gagal karena Dimnah telah membocorkan rencanaya kepada Singa. Sehingga akhirnya Syatrabah pun diamankan atau ditangkap dan kemidian dihukum mati oleh polisi penegak hukum. Namun kemudian, ada kabar yang memberitahukan kepada Singa, bahwa Dimnah telah menyebarkan fitnah. Semua kata yang digembar-gemborkan di antara kedua sahabat itu adalah dusta, karena Dimnah mempunyai hati yang busuk, berniat menghancurkan persahabtan mereka. Dan akhirnya kejahatan Dimnah terbuka sehingga Singa menjatuhkan hukuman berat kepadanya. Dimnah ditangkap dan dijebloskan ke penjara dan dihukum mati sehingga menakhiri karir politiknya dan sekaligus hidupnya. Atas Semua kejadian itu, Singa pun menyesal atas perbuatannya karena terhasut oleh fitnah Dimnah. Singa sedih apalagi ketika mengenang masa-masa indah bersama Syatrabah. Ia menjadi menjadi kesepian karena semenjak Syatrabah meninggal, tak ada kawan yang sebaik Syatrabah menurutnya.Pada cerita di atas dengan tema “memutuskan tali persahabatan politik” dapat dianalisis yang luas tentang politik dan intrik. Misalnya pembicaran berkenaan dengan niat dan ikhtiar pembunuhuan politik tidak langsung sebagaimana yang nampak pada opercakapan antara Dimnah dengan sahabatanya Kalilah. Dikatakan bahwa melakukan pembunuhan politik tidak langsung dikemukakan dalam bagian cerita ini.
Diceritakan bahwa burung gagak ingin membunuh ular. Gagak sebelumnya mencuri rantai emas dari pemiliknya kemudian ia taruh di lubang ular. Ketika pemilik rantai emas tahu rantainya ada di lubang tersebut, ia membunuh ular yang ada di lubang itu. Cerita lain contohnya, Si Lemah menyelamatkan diri dari ancaman musuh yang kuat dengan menghimpun solidaritas dan kerjasama, menyiapkan siasat yang cerdas. Penulis karya ini, berpesan agar kita waspada terhadap tukang fitnah dan kita harus berusaha menjauhkan diri dari orang jahat, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, dan masih banyak lainnya pesan yang disampaikan. 
Karya, Titik Temu Dunia Timur dan Barat
Sungguh menarik, walaupun Kalilah Wa dimnah karya saduran Ibnu Al-Muqoffa’ akan tetapi menjadi tonggak bagi awal kemunculan prosa dalam arti sesungguhnya dalam sejarah sastra Arab. Setelah dirombak dalam bahasa Arab, ia diterjemahakan ke dalam bahasa Persia. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa inilah banyak sastrwan Barat yang terinspirasi dan tertarik terhadap karya tersebut. Sehingga banyak diterjemahkan ke bahasa Yunani, Prancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman, dan Inggris. Pada abad ke-18, La Fontaine, penyair Perancis terkenal, mendapat inspirasi untuk menulis seperti karya ibnu al-Muqoffa. Karena melalui karya yang ditulis tentang kisah-kisah binatang, sebagai sindiran dan kritik terhadap zamannya. Sebagian cerita-cerita yang ditulis dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa politik yang terjadi pada abad ke-17 dan 18 M di Eropa. Salah seorang filosof Barat abad ke-16 yang juga tertarik akan karya tersebut adalah Francis Bacon sehingga sebuah esai falsafah yang berjudul Believe of The Fables. Dia terkesan dan salut terhadap Ibnu al-Muqoffa’, karena ia sebagai sastrawan dan filosof, memilki pengetahuan yanga luas tentang politik dan seluk beluk manusia. Selain itu, pada tahun 1570, Thomas North juga menerjemahkan karya tersebut dengan versi Itali yang diberi judul The Moral Philoshopy of Dhoni. Sarjanawan Barat pun ada yang menyebutkan bahwa karya Ibnu al-Muqoffa’ tersebut merupakan jembatan atau titik yang mempertemukan karya sastra Barat dan Timur.
Di atas sekilas dapat disimpulkan bahwa karya Abnu al-Muqoffa’ tersebut memberikan inspirasi bagi para sastrawan Barat seperti yang telah disebutkan. Karena mungkin mereka mendukung terhadap pemikiran rasonalis Ibnu al-Muqoffa’. Karena Ia dikenal sebagai filosof rasionalis Mu’tazilah. Ia menempatkan akal dan pikiran tinggi dalam dirinya sehingga ia menolak faham Jabariyah, aliran pemikiran Islam yang menolak adanya ikhtiar dalam takdir. Hal ini dapat terlihat dari kisah yang ditulisnya, melalui kisah orang miskin yang mendapat keberuntungan atas kedatangan pencuri ke rumahnya. Ketika si pencuri itu masuk ke rumahnya dan menemukan gandum di rumah tersebut. Sehingga ia melepaskan bajunya untuk membungkus gandum tersebut. Namun si Miskin tersebut terjaga dari tidurnya sehingga ia tahu ada pencuri dan ia langsung berteriak. Akhirnya pencuri tersebut kabur dengan meninggalkan bajunya. Dari situ, si Miskin mendapat  keberuntungan. Ia tidak kehilangan gandum dan ia mendapat baju sebagai pengganti bajunya yang telah sobek. Jika seandainya si Miskin tidak berbuat apa-apa ketika tahu ada pencuri, maka ia akan mendapat kemalangan sekaligus.Pengaruh gaya bahasa yang ditampilkan Ibnu al-Muqoffa’ tercermin pada karya-karya setelahnya seperti pada karya Kahlil Gibran, al-Nabi dan karya Niestzsche yaitu Also spracht Zarahustra. Dan masih banyak karya lain terpengaruh oleh karyanya.
Nilai dan hikmah Teks
Kalilah Wa Dimnah bentuk fabel yang menggunakan dunia hewan untuk menjadi aktor utama, setting, dan sarana yang merefleksikan dan mencerminkan dunia manusia.[6]Walaupun di dalamnya mengandung perumpamaan binatang tapi itu menggambarkan relitas yang terjadi pada kehidupan manusia. Karya ini menggemakan nilai etis-moral dan religiusitas bagi masyarakat. Di dalamnya tersurat tontonan akan tetapi tersirat tuntunan. Sehingga untuk mengambil hikmahnya, tidak hanya sekedar dibaca, namun harus difahami dan dihayati.Kitab tersebut merupakan sebuah karya yang tidak diapresiasi di kalangan sufi, akan tetapi sebuah karya yang menjadi insnpirasi bagi kalangan sastrawan dalam satu genre tertentu.Karya ini merupakan obat pelipur lara untuk kehidupan yang carut-marut dan mengalami stagnasi. Dalam karya Ibnu al-Muqoffa’ menaruh pelajaran tentang politik kepada penguasa dan rakyatnya.karena pesan moral yang diambil dari karya ini adalah pembelajaran etika dan estetika untuk seorang raja atau pemimpin, dan rakyatnya menjadi baik. Dalam karya tersebut dijelaskan bagaimana hubungan antara raja atau penguasa dan rakyat tidak harmonis. Sehingga bisa dipulihkan gejolak social dan politik yang terjadi.Cerita berbingkai ini mengandung beberapa materi, yaitu: Pertama, Kitab ini dengan menggunakan lisan binatang dan bukan bahasa manusia, agar bisa dibaca oleh orang yang suka dengan lelucon dari kalangan muda sehingga memberikan motivasi untuk menyukai, sebab ini adalah bagian dari tipu muslihat dan taktik yang digunakan oleh para binatang. Kedua, Kitab ini memperlihatkan daya imajinasi dan kreativitas para binatang dengan berbagai cara dan bentuk untuk menyenangkan hati para penguasa. Sehingga semangat dan keinginannya untuk membaca kitab ini bisa bertambah. Ketiga, kitab ini dirancang sedemikian rupa agar bisa dimanfaatkan oleh para penguasa dan orang-orang awam. Keempat, karya ini memiliki tujuan khusus yang hanya diketahui sang filosof agung. Kandungan karya ini begitu luas dan tinggi, memiliki nilai etika dan estetika, pesan moral dalam bentuk lelucon, yang menggunakan bahasa binatang namun mengandung hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik.
Pentasbihan
Dari sekilas penguraian di atas, yakni prosa Kalilah Wa Dimnaj oleh Ibnu al-Muqoffa’dapat sedikit ditarik kesimpulan bahwa karya tersebut begitu masyhur dibanding dengan karya-karya sezamannya. Kitab itu juga menjadi inspirasi bagi karya-karya sastrawan sesudahnya, baik Timur maupun Barat. Prosa berbingkai cerita yang mengandung etika dan estetika. Walaupun karya tersebut merupakan saduran akan tetapi tidak mengubah isi, makna dan kandungan dari penulis aslinya. Ibnu Muqoffa’ mengemasnya menjadi lebih menarik dengan cerita-cerita sisipannya. Sebuah karya sastra prosa yang di dalamnya mengundang tontonan akan tetapi mengandung tuntunan yang dapat kita petik hikmah di baliknya. Dengan tidak hanya membacanya semata akan tetapi melalui penghayatan dan pemahaman yang dalam untuk memaknainya yang di dalamnya menjadi alat untuk mempertimbangkannya. Hal ini juga kiranya bisa menjadi dorongan dan inspirasi bagi semua kalangan, untuk menciptakan sebuah karya sastra. Kemudian bisa mengembangkan karya sastranya sehingga bisa memperkaya khazanah Islam di masa peradaban kemudian. Kita juga bisa melahirkan sebuah karya seperti demikian, terkesan hanya tersurat tontonan akan tetapi sebenarnya tersirat tuntunan yang memperkaya khazanah Sastra Islam.
DAFTAR BACAAN
Djamil, Ismail, Hikayat Kalilah Wa Dimnah. Jakarta: Balai Pustaka, 1998
Baidaba, Hikayat Kalilah Wa Dimnah: Fabel-fabel Alegoris, Jakarta: Pustaka Hidayah, 2004
Ibn al Muqoffa’, Kalilah Wa Dimnah: Fabel-fabel kearifan Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2004
Hadi. WM, Abdul. 2007. “Ibnu al-Muqoffa’ dan Karyanya Kalilah Wa Dimnah”, diktat mata kuliah Seni dan Sastra Islam Semester 3, Jakarta: ICAS-Paramadina

[1] Abdul Hadi. WM. 2007. Diktat Mata Kuilah Semester 3 Ibnu al Muqoffa: Kalilah Wa Dimnah.Jakarta: ICAS-Paramadina[2] Ibid[3] Ismail Djamil.1988. Hikayat Kalilah Wa Dimnah. Jakarta: balai pustaka. Hal 11 [4] Opcit[5] Baidaba. Hikayat Kalilah Wa Dimnah: Fabel-fabel Alegoris, Hal 64[6] Ibnu al-Muqoffa’.2004. Kalilah Wa Dimnah. Jogjakarta: Pustaka Sufi. Hal.Xii

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda